Longsor Karangpandan





PEMBERSIHAN LONGSOR -- Petugas gabungan membersihkan jalur Solo-Tawangmangu dari tanah longsor yang membuat jalur itu terputus, Rabu (22/2/2012) pagi. (JIBI/SOLOPOS/Farid Syafrodhi)
KARANGANYAR – Bencana tanah longsor di wilayah Kabupaten Karanganyar teridentifikasi terjadi di 19 lokasi, Rabu (22/2/2012). Puluhan rumah ambruk dan ratusan lainnya rusak ringan. Dua orang warga meninggal dunia serta beberapa lainnya mengalami cedera patah tulang.

Sejumlah ruas jalan raya di jalur yang menghubungkan Tawangmangu-Karanganyar juga lumpuh total beberapa saat lantaran longsor. Imbasnya kendaraan yang dari maupun ke Tawangmangu mengular hingga sekitar dua kilometer. Longsor juga mengakibatkan jalan umum tidak bisa dilalui kendaraan. Selain itu juga ada satu jembatan yang putus. Hujan lebat yang terjadi sejak Selasa (21/2/2012) sore hingga Rabu pagi itu mengakibatkan beberapa desa di lima kecamatan itu longsor. Para warga pun kesulitan untuk menyingkirkan longsoran tanah karena peralatan yang sangat minim. Penerangan yang sangat minim juga membuat warga tidak dapat berbuat banyak.
RUSAK BERAT -- Kondisi rumah warga yang rusak berat akibat terkena bencana tanah longsor di Karangpandan, Karanganyar, Rabu (22/2/2012). (JIBI/SOLOPOS/Farid Syafrodhi)
Lima kecamatan yang diterjang longsor yakni Kecamatan Karangpandan, Matesih, Tawangmangu, Jenawi dan Ngargoyoso. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Aji Pratama Heru Kristanto, mengatakan lima kecamatan itu kebetulan berada di kaki Gunung Lawu. Longsor tersebut sudah sering terjadi untuk ke sekian kalinya di lokasi tersebut.
“Total ada 19 titik longsor baik besar maupun kecil. Yang terparah ada di Kecamatan Karangpandan, khususnya di Dusun Banjar, Desa Gerdu, sebab ada satu orang warga meninggal karena longsoran tanah,” ujar Heru saat ditemui wartawan di Karangpandan, Selasa pagi. Dua orang warga yang meninggal yakni Reso Wiyono, 60, alias Walimin, warga Dusun Banjar, Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan, dan Sukiningsih Kastono, 65, warga Dusun Drojo RT 005/RW 011, Desa Puntukrejo, Kecamatan Ngargoyoso. Reso meninggal karena tertimbun longsoran tanah, sedangkan Sukiningsih meninggal karena diduga kaget rumahnya rusak kena longsor.
Di Karangpandan sendiri ada empat rumah warga yang rusak berat. Dua rumah di Dusun Banjar, satu rumah di Dusun Gantung dan satu rumah lagi di Desa Srandon. Kepala Desa Gerdu, Suwarno, mengatakan rumah paling parah rusaknya milik Reso, hingga menewaskan si pemilik rumah.
Menurut Suwarno, longsor terjadi sekitar pukul 23.30 WIB. Listrik di dusun tersebut juga mati total. Warga tidak bisa berbuat apa pun untuk menolong Reso. Baru Rabu pagi, warga dibantu ratusan relawan, TNI dan polisi mengevakuasi jenazah Reso. Proses evakuasi cukup sulit karena ribuan kubik tanah longsor dan mengubur rumah Reso yang dekat dengan tebing. Tanah tersebut juga menghalangi jalan dan sawah warga di dusun tersebut. “Dari hasil kajian dan pantauan tim Geologi Bandung, sebenarnya wilayah Gerdu, terutama di Dusun Banjar ini sudah tidak layak untuk menjadi hunian karena rawan terjadi tanah longsor,” jelas Suwarno.
Jenazah Reso baru berhasil dievakuasi sekitar pukul 08.00 WIB. Jenazahnya langsung dibawa ke masjid tak jauh dari rumah korban. Setelah dimandikan, hari itu juga jenazah Reso dikebumikan.
EVAKUASI KORBAN -- Personel TNI dan tim penyelamat mengevakuasi salah satu jenazah korban tanah longsor. (JIBI/SOLOPOS/Farid Syafrodhi)
Sekitar 100 meter dari lokasi rumah Reso, jalan raya yang menghubungkan Matesih-Karangpandan melalui Desa Girilayu lumpuh total. Tebing dekat jalan tersebut longsor seketika saat hujan lebat malam sebelumnya. Kendaraan roda dua dan roda empat sama sekali tidak bisa melalui jalur tersebut. Sementara itu total rumah yang rusak ringan se-Karangpandan diperkirakan mencapai 80 rumah.
Di Kecamatan Matesih, setidaknya delapan rumah mengalami kerusakan. Satu rumah yang atapnya jebol yakni milik salah satu warga di Dusun Madhang, Desa Girilayu. Selain itu, satu jembatan di Dusun Klangon Wetan, Desa Gantiwarno dengan Dusun Ngipik, Desa Gayamdompo, Kecamatan Karanganyar, juga ambrol diterjang banjir. Akibatnya, warga kesulitan mengakses jalan dan harus memutar arah untuk mencapai jalan raya.
Tanah longsor juga mengubur sebagian ruas jalan di jalan Dusun Plombokan dan Dusun Rotogondang, Desa Girilayu. “Kami memperkirakan banjirnya sangat besar sehingga bisa menghanyutkan puing-puing bangunan jembatan yang ambruk,” ungkap Camat Matesih, Titik Umarni. Di Matesih sendiri, kata dia, ada sekitar 79 rumah rusak ringan.
Di Dusun Tawanrejo RT 004/RW 001, Desa Sidomukti, Kecamatan Jenawi, dua rumah warga roboh dan rusak total dan dua lainnya rusak ringan. Kapolsek Jenawi, AKP Suryanto, menambahkan ada enam pekarangan warga di Desa Menjing juga rusak. “Dua orang penghuni rumah mengalami luka-luka cukup serius dan harus dilarikan ke puskesmas Jenawi,” katanya.
 
 

Di Tawangmangu, tiga rumah warga di Dusun Tampung dan Dusun Gode, Desa Plumbon, rusak ringan. Kerusakan terjadi pada dinding rumah warga yang retak-retak dan ada pula yang ketiban pohon cengkeh. Di Desa Tengklik satu rumah juga roboh karena longsor. Tebing di pinggir jalan raya Solo-Tawangmangu di Dusun Setugu, Desa Plumbon juga longsor dan menghalangi kendaraan yang lewat. Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 01.00 WIB. Sebelum banyak kendaraan yang lewat, jalan di sana sudah dibersihkan. “Saat kami membersihkan longsoran, sempat ada truk yang terjebak karena berada di tengah-tengah jalur antara Setugu dengan Desa Srandon, Karangpandan, yang jalurnya juga kelongsoran tanah,” ungkap Camat Tawangmangu, Yopi Eko Jatiwibowo.
Sedangkan di Kecamatan Ngargoyoso, ada empat titik lokasi longsor, yakni di Desa Ngargoyoso dan Puntukrejo. Dapur rumah warga juga kena dan sempat ada warga yang tulang kakinya patah saat berjalan menghindari longsoran tanah. Di Dusun Sikucing, Desa Ngargoyoso, tanah juga menghalangi jalan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer