
Situs Menggung. Adalah petilasan yang dulunya berupa Altar dengan arca-arca disekitarnya, tapi kini arca-arca peninggalan sejarah itu telah banyak yang hilang. Situs Menggung berada di Desa Nglurah yang merupakan Sentra Industri Tanaman Hias di Kecamatan Tawangmangu. Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan maupun berjalan kaki 2 km dari terminal bus Tawangmangu. Berbagai nama jenis tanaman hias dari yang hanya seharga 1000 rupiah per batang sampai yang ratusan juta rupiah dapat kita jumpai di perkampungan ini dengan jumlah yang sangat besar, dimana hampir setiap rumah tangga memiliki kebun pemberdayaan tanaman hias.
Seunik candi lainnya di Gunung Lawu yang berbetuk punden berundak. Situs Menggung terdiri atas tiga teras. Di teras pertama kita hanya akan menemukan empat buah patung dwarapala yang menjaga tangga menuju teras kedua. Selain sudah aus, patung dwarapala ini sendiri unik karena salah satu patungnya dipahat dua arah, depan dan belakang, persis seperti arca di Candi Ceto.






Menurut masyarakat setempat tradisi ini merupakan salah satu dari ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan segala kenikmatan, kesehatan, keselamatan, dan ketenteraman, serta bertujuan untuk mensucikan diri dari pengaruh nafsu duniawi yang negatif agar diri manusia kembali menjadi suci, berangkat dari legenda cinta dua orang sakti yaitu Norotomo dan Nyai Roso Putih yang terlibat perseteruan di desa tersebut jaman dulu. Namun setelah perkelahian demi perkelahian mereka lakukan, akhirnya mereka justru saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Lantas eduanya diangkat sebagai pepunden (pemimpin Desa Nglurah kala itu.
Kejadian diatas lantas ditiru dalam adegan pada prosesi ritual. Dengan dandanan ala Warok Ponorogo, warga masyarakat Nglurah lor dan Nglurah kidul saling berhadapan di tempat yang ditentukan. Bermula dari ejekan dan hinaan yang saling dilontarkan oleh kedua pasukan hingga keduanya tidak bisa lagi mengendalikan emosi. Di tangan mereka telah siap keranjang sesaji berisi makanan yang sedianya akan dibagikan kepada warga. Tapi, entah siapa yang memulai provokasi, keranjang berisi makanan itu justru dijadikan senjata untuk menciptakan kerusuhan. Kekisruhan pun tak bisa dihindari.
Warga dua dusun yang berbeda itu akhirnya terlibat tawuran. Mereka saling melemparkan sesaji berikut perkakasnya, seperti bambu, kayu atau apapun yang saat itu berada di dekat mereka kepada musuh yang ada dihadapannya. Tak pelak, tubuh, kepala dan wajah mereka pun bengkak dan lebam akibat terkena lemparan.
video dukutan di SCTV
Ritual ini dilakukan sebagai rangkaian upacara ritual bersih desa yang disebut Tawur Dukutan. Selesai upacara adat, warga mengumpulkan sesaji berupa makanan yang terbuat dari jagung dan dibagi-bagikan kesemua warga. Sesaji itu diyakini akan mendatangkan berkah bagi mereka yang membawa dan menikmatinya.
Referensi copy dari berbagai sumber dan www.karanganyarkab.go.id/20110921/situs-menggung
ada hotelnya gk mas
BalasHapus